Hindari Minuman Karbonasi Dingin Selama Puasa

Hindari Minuman Karbonasi Dingin Selama Puasa

SEHAT selama menjalankan sisa puasa di bulan Ramadan bukanlah hal rumit, terlebih kita sudah beradaptasi selama beberapa pekan. Meski begitu, masih ada beberapa orang yang tidak menyadari melakukan kebiasaan kurang sehat, baik saat berbuka puasa maupun sahur.

Head of the Nutrition Department di Al Qassimi Hospital, Sharjah, Latifa Mohammed Rashid, mengatakan bahwa ada beberapa makanan dan minuman yang harus dihindari saat berbuka puasa maupun sahur. Di antaranya adalah minuman olahan atau berkarbonasi.

“Hindari minuman berkarbonasi yang terbuat daru susu dan buah karena mengandung banyak garam, serta hanya membuat Anda merasa haus setelah berbuka puasa,” katanya, sebagaimana dikutip Emirates247, Senin (21/7/2014).

Jadi, berbuka puasa dengan air putih dulu untuk memberikan cukup kalium yang Anda butuhkan untuk menjaga kadar gula darah tubuh. Konsumsi setelah seharian berpuasa. (Baca: Waspadai Penyakit Kronis saat Mudik)

Selain itu, berbagai minuman disuguhkan dalam bentuk sangat dingin. Banyak yang menyukainya dalam bentuk dingin karena memberikan efek menyegarkan saat berbuka puasa.

Namun, Latifa tidak menganjurkan untuk mengonsumsi minuman berkarbonasi, terutama dalam bentuk dingin. Sebab, hal ini bisa memicu gangguan perut dan kecanduan.

“Minuman es berkarbonasi dapat menyebabkan gangguan perut dan kecanduan sehingga umumnya tidak dianjurkan. Jika Anda ingin menghindari minuman berkarbonasi, cobalah menggantinya dengan memilih jus buah segar,” tutupnya. (fik)


View the original article here

Puasa Ramadan Bikin Asam Urat Membaik

Puasa Ramadan Bikin Asam Urat Membaik

TIDAK hanya amal dan perilaku yang membaik selama menjalankan puasa Ramadan. Namun, berbagai manfaat kesehatan juga didapat, misalnya keluhan nyeri asam urat yang mudah diperbaiki.
Menurut Dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Konsultan Gastroenterologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penyebab asam urat yakni pola makan yang tinggi purin. Namun, karena menjalani puasa, maka asam urat setidaknya bisa diminimalisir.
"Puasa (Ramadan) mendorong orang mengonsumsi makanan sehat dan jauh dari lemak. Karenanya, asam urat seseorang bisa membaik saat-saat sisa mendekati hari Lebaran ini," katanya saat diwawancarai Okezone, Senin (21/7/2014)
Lebih lanjut, makanan yang tinggi purin biasanya mengandung lemak. Lantas, apa saja makanan yang tinggi purin?
"Makanan berlemak, jeroan, daging kambing, dan emping adalah beberapa yang membuat asam urat seseorang kambuh," tutupnya. (Baca: Pola Makan Sehat selama Puasa) 
(fik)

View the original article here

Mudik saat Puasa, Sahur Jangan Lupa Minum Vitamin

Mudik saat Puasa, Sahur Jangan Lupa Minum Vitamin

BAGI Anda yang akan melakukan perjalanan ke kampung halaman, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Apalagi, bagi mereka yang juga menjalankan ibadah puasa.

Salah satu persiapan sebelum melakukan perjalanan mudik dalam kondisi masih puasa adalah kebutuhan gizi. Menurut Direktur Medis Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat, Dr Sri Widiyaningsih, bekal yang dibawa oleh pemudik untuk sahur dan berbuka puasa baiknya tidak sembarangan. Setidaknya harus memerhatikan sisi kebersihannya.

“Kalau makanan sih tetap nasi, tetapi kalau kita membawa bekal sendiri selama perjalanan mudik yang pasti harus higienis,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Dr Sri menambahkan bahwa bekal makanan yang dibawa oleh pemudik juga harus memenuhi kebutuhan gizi. Di antaranya mencakup karbohidrat, protein, dan vitamin.

“Makanannya harus mencakup karbohidrat, protein, vitamin, dan serat atau empat sehat, bahkan kalau bisa lima sempurna. Kalau lima sempurnanya bisa terpenuhi, itu lebih bagus. Kalau tidak juga tidak masalah,” jelasnya. (Baca: Mabuk Perjalanan Ketika Mudik, Minum Obat atau Istirahat)

Lebih lanjut, tidak kalah penting adalah menghindari sakit selama perjalanan. Jika memang terjadi, Dr Sri menyarankan untuk menambah asupan vitaman demi menutupi kekurangan asupan nutrisi.

“Kalau kita dalam perjalanan tiba-tiba sakit, maka harus memnuhi kebutuhan asupan nutrisi yang kurang dengan vitamin karena kalau sedang sakit biasanya menjadi sedikit makanan sehingga nutrisinya kemungkinan kurang,” tutupnya.  
(fik)


View the original article here

Buka Puasa Tidak Perlu Makanan Penutup

Buka Puasa Tidak Perlu Makanan Penutup

TIDAK terasa Ramadan sudah mendekati akhir. Namun, bukan berarti kesehatan selama berpuasa menjadi diabaikan.

Kunci menjaga kesehatan selama bulan ramadan bisa dilakukan pada waktu berbuka puasa. American Board Certified di Gastroenterology and Hepatology, Dr Abdulla A Fayyad mengatakan, salah cara menerapkan kebiasaan sehat di sisa bulan Ramadan adalah dengan mempercepat buka puasa.

“Mempercepat buka puasa artinya tidak banyak makanan yang dikonsumsi merupakan dasar untuk makan sehat selama bulan Ramadan,” katanya, seperti dikutip Emirates247, Senin (21/7/2014).

Menurut Dr Fayyad, aturan dasar sederhana yang harus diikuti selama bulan Ramadan adalah berbuka puasa dengan perlahan. Selain itu, Dr Fayyad mengatakan bahwa saat buka puasa makanlah makanan yang seimbang dan tidak perlu ada menu penutup.

“Ketika perut sudah terasa penuh, lebih baik membereskan makanan-makanan di meja dan menjauhkannya sehingga tidak ada godaan untuk makan berlebihan,” jelasnya. (Baca: Ragam Olahraga Dianjurkan saat Ramadan)

Selain itu, menu buka puasa harus seimbang. Bahkan, tidak ada menu penutup sebagai bagian dari kampanye mempromosikan kebiasaan makan sehat dan aman selama bulan Ramadan. (Baca: Pola Makan Sehat selama Puasa)  
(fik)


View the original article here

Puasa Stabilkan Tekanan Darah Penderita Hipertensi

Puasa Stabilkan Tekanan Darah Penderita Hipertensi

PUASA Ramadan memiliki banyak manfaat kesehatan. Bahkan, pada 10 hari jelang Lebaran, salah satu manfaat yang bisa diambil adalah menurunnya tekanan darah bagi penderita hipertensi.

Hal ini seperti diungkapkan Dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Konsultan Gastroenterologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Menurutnya, naik turun tekanan darah pada penderita hipertensi disebabkan pola makan lemak yang tidak terkontrol, dan emosi yang diliputi rasa cemas.

Sementara itu, dengan menjalani puasa, setidaknya kebiasaan itu bisa diminimalisir.

"Tanda dari tekanan darah bisa turun, bisa dilihat dari pemakaian obat yang berkurang. Jika tekanan darah tidak turun, pasti ada yang tidak terkontrol antara pola makan atau emosi," katanya saat diwawancarai Okezone, Senin (21/7/2014)

Meski begitu, turunnya tekanan darah bagi penderita hipertensi juga tetap harus diwaspadai. Pasalnya, bisa saja aktivitas lain setelah menjalani puasa bisa memicu tekanan darah kembali naik.

"Mudik itu pasti memengaruhi tekanan darah penderita hipertensi. Dan, kuncinya agar bisa mempertahankan manfaat dari mengontrol pola makan dan pengendalian diri—jangan mudah terpancing untuk marah," tutupnya. (fik)


View the original article here

Pola Makan Sehat, Puasa Perbaiki Keluhan Maag

Pola Makan Sehat, Puasa Perbaiki Keluhan Maag

PUASA Ramadan tidak hanya membawa berkah bagi penderita maag. Puasa juga membawa keluhan maag membaik.
Dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Konsultan Gastroenterologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan, puasa mampu membuat maag membaik. Apalagi, hal ini terjadi karena pola makan saat berbuka puasa dan sahur yang sehat.
"Maag bisa muncul karena faktor makan. Jadi, cara untuk mengontrolnya ialah dengan menghindari makanan yang asam, pedas, berlemak, dan juga cokelat," katanya saat diwawancara Okezone, Senin (21/7/2014)
Lebih lanjut, penyakit ini juga masih bisa bergejolak. Untuk itu, Anda bisa mengonsumsi obat penekan asam lambung. (Baca: Pola Makan Sehat selama Puasa) 
"Saat perut tidak enak saat jalani puasa, berarti asam lambung meninggi. Kalau sudah seperti itu, minumlah obat asam lambung khususnya saat sahur," terangnya.
(fik)

View the original article here

Malas Gerak saat Puasa Justru Tidak Sehat

Malas Gerak saat Puasa Justru Tidak Sehat

PUASA bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Meski ketika puasa tubuh akan terasa lemas dan mengantuk, berdiam diri justru dinilai tidak menyehatkan.

Dokter dan ahli kebugaran, Dr Chandy George, dari Balance Wellbeing 360 mengatakan bahwa menjalani rutinitas dengan latihan ringan tetap diperlukan untuk menjaga tubuh aktif selama puasa. Biasanya, olahraga lebih ideal dilakukan setelah berbuka puasa.

“Kuncinya adalah mengonsumsi makanan ringan sebelum berolahraga pada pukul 21.00, yaitu setelah berbuka puasa,” katanya, seperti dikutip Gulfnews, Kamis (17/7/2014).

Lebih lanjut, Dr George menjelaskan bahwa pada hari biasa, olahraga pagi dapat membantu mendongkrak energi untuk menjalani sisa hari. Namun, berolahraga rutin pada bulan biasa tidak boleh dilakukan selama siklus puasa di bulan Ramadan. (Baca: Alasan Diabetesi "Haram" Puasa saat Gula Darah Tinggi)

“Hindari berolahraga pagi hari karena tubuh yang sedang berpuasa akan kelelahan setelah itu. Hal tersebut juga akan menyebabkan kerusakan otot dan meningkatkan dehidrasi,” jelasnya.

Lemak sendiri seperti bahan bakar utama metabolik bagi orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Namun, menurut Dr George, seharusnya membakar lemak tidak menjadi fokus utama selama Ramadan, melainkan cukup untuk metabolisme.

“Fokus utama selama Ramadan harus memaksimalkan metabolisme karena puasa akan membuatnya melambat sehingga harus tetap aktif,” tutupnya.  
(fik)


View the original article here

Siasat Mengonsumsi Obat Selama Puasa

Siasat Mengonsumsi Obat Selama Puasa

PERUBAHAN jadwal makan dan mengonsumsi obat bisa menimbulkan hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah pada penderita diabetes. Namun demikian, hal ini masih bisa disiasati dengan menumbalkan puasa.

Dr. Benny Kurniawan, Marketing Manager PT Roche Indonesia mengatakan konsumsi obat yang biasanya dilakukan pagi ataupun sore, bisa dilakukan saat buka puasa. Jenis obatnya pun bukan berlaku untuk oral, tapi juga suntik insulin. (Baca: Teh Manis Tak Baik Dikonsumsi saat Sahur)  
"Selama bulan puasa, obat bisa dikonsumsi saat buka puasa dan sahur," jelasnya dalam acara yang bertema 4 Sehat 5 Teratur Selama Berpuasa bagi Diabetesi bersama Accu- Chek, di Crown Plaza lantai 2 di Maroush Restaurant, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, 16 Juli 2014. (Baca: Diabetesi Pantang Olahraga Dekati Waktu Buka Puasa)
Selain itu harus diingat, saat minum obat sewaktu sahur jumlah dosisnya harus dikurangi. (Baca: Alasan Diabetesi "Haram" Puasa saat Gula Darah Tinggi)
"Pengurangan dosis obat hipoglikemik oral ini sendiri untuk menghindari terjadinya hipoglikemik ada sore hari. Karena itu, dosisnya separuhnya saja," tutupnya.
(fik)


View the original article here

Alasan Diabatesi ''Haram'' Puasa saat Gula Darah Tinggi

Alasan Diabatesi ''Haram'' Puasa saat Gula Darah Tinggi

MENJALANI puasa Ramadan, bagi penderita diabetes atau diabetesi memang diperbolehkan. Namun, "haram" hukumnya jika kondisi gula darah sedang tinggi.
Menurut Dr Benny Kurniawan, Marketing Manager PT Roche Indonesia, jika diabetesi memaksakan diri berpuasa, maka akan memicu kejadian yang fatal atau penyakit baru. Nyatanya, diabetesi dengan kadar gula darah di atas 300 mg/dl tidak boleh berpuasa. Pasalnya, saat gula darah tinggi, lemak tubuh akan dibakar secara drastis. (Baca: Jangan langsung makan besar usai konsumsi takjil)
“Hasilnya, akan menciptakan pecahan, dimana tidak hanya energi yang dihasilkan tapi juga keton (racun-red). Dari keton ini, akhirnya bisa timbul komplikasi yang berat," katanya dalam acara bertema “4 Sehat 5 Teratur Selama Berpuasa bagi Diabetesi” bersama Accu-Chek di Crown Plaza, Jakarta, Rabu, 16 Juli 2014. (Baca: Mengintip proses kemampuan bayi bicara)
Untuk berpuasa, diabetesi harus lebih dulu menurunkan kada gula darahnya. Caranya dengan mengurangi konsumsi asupan manis dan olahraga selama 30 menit selama empat sampai lima hari dalam sepekan.
"Patokannya, turunkan gula darah di bawah 300 mg/dl. Nah, setelah itu sudah boleh puasa," pungkasnya.
(fik)

View the original article here

Diabetesi Pantang Olahraga Dekati Waktu Buka Puasa

Diabetesi Pantang Olahraga Dekati Waktu Buka Puasa

SELAMA berpuasa, penderita diabetes atau diabetesi boleh olahraga. Meski begitu, olahraga baiknya tidak dilakukan mendekati waktu berbuka puasa.
Menurut Dr Benny Kurniawan, Marketing Manager PT Roche Indonesia, diabetesi tidak dianjurkan berolahraga satu atau dua jam sebelum buka puasa. Pasalnya, kadar gula darah dalam tubuh berada pada tahap terendah. Mereka berisiko hipoglikemia.
"Jam 16.00 atau 17.00 adalah titik gula darah terendah kita. Alih-alih mendapatkan kesehatan, malah bisa mengancam kesehatan karena hipoglikemia, kalau dipaksakan berolahraga," katanya dalam acara bertema “4 Sehat 5 Teratur Selama Berpuasa bagi Diabetesi” bersama Accu-Chek, di Crowne Plaza Hotel, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Baca: Jangan langsung makan besar usai konsumsi takjil)
Untuk berolahraga, diabetesi lebih dianjurkan melakukannya setelah berbuka. Pasalnya, kadar gula darah saat itu sudah kembali normal. (Baca: Mengintip proses kemampuan bayi bicara)
"Saat kita buka puasa, gula darah kembali normal. Ini adalah kondisi yang tepat untuk penderita diabetes mulai berolahraga," imbuhnya.
Sementara itu, jenis olahraga yang tepat untuk diabetesi adalah aerobik. Alasannya, olahraga tersebut bisa meningkatkan daya tahan tubuh untuk menopang kegiatan harian.
"Aerobik jenis olahraga yang kita masih sempat untuk menarik napas. Misalnya, jalan kaki, nah itu kita lakukan sebanyak 15o menit dibagi menjadi empat atau lima hari per pekan," tutupnya.
(fik)

View the original article here