Klimaks Bercinta Atasi Masuk Angin hingga Cegah Kanker

Klimaks Bercinta Atasi Masuk Angin hingga Cegah Kanker

BAIK pria maupun wanita ketika berhubungan bercinta sama-sama ingin mencapai klimaks. Tetapi, mampu mencapai klimaks saat berhubungan seksual tidak hanya demi kepuasan, melainkan manfaat kesehatan.  
Tahukah Anda bila mencapai klimaks saat bercinta bermanfaat bagi kesehatan? Sexual health counselor, Alison Richardson, mengatakan bahwa mencapai klimaks saat berhubungan seksual dapat membantu mengatasi masalah masuk angin. (Baca: Manfaat Kesehatan Bercinta Setiap Hari)

"Berhubungan seks secara teratur meningkatkan antibodi imunoglobulin A yang dapat melindungi Anda dari masuk angin dengan menguatkan sistem kekebalan tubuh," katanya, sebagaimana dikutip Cosmcopolitan, Sabtu (18/7/2014),
Lebih dari itu, menurut psychologist dari Center for Marital and Sexual Health of South Florida, Dr Rachel Needle, mencapai klimaks saat berhubungan seksual juga dapat membantu wanita memerangi kanker payudara. Bagaimana berhubungan seksual dapat membantu mencegah kanker payudara?
"Oksitosin telah terbukti mencegah sel-sel kanker payudara berkembang menjadi tumor. Rangsangan pada payudara dan puting akan menghasilkan hormon oksitosin yang akan melawan sel kanker," jelas Dr Needle. (Baca: Empat Cara Alami Dongkrak Testosteron)

Lebih lanjut, Dr Needle mengatakan bahwa mencapai klimaks saat berhubungan seksual juga dapat mengatasi masalah kram karena tubuh didorong untuk menghasilkan hormon endorfin. Menurut Dr Needle, hormon endorfin berperan seperti morfin yang merupakan obat penghilang rasa nyeri.
"Pernahkah Anda mengalami sakit kepala atau kram menstruasi yang tiba-tiba menghilang setelah berhubungan seksual? Hal itu karena endorfin mengurangi rasa nyeri hingga sebesar 70 persen," tutupnya.
(fik)

View the original article here

Kasus Bayi Pendek Indonesia Masuk Lima Besar Dunia

Kasus Bayi Pendek Indonesia Masuk Lima Besar Dunia

ANGKA stunting (tubuh pendek) pada bayi di Indonesia masih masuk lima terbesar di dunia. Sebagian besar diketahui berada di Provinsi Jawa Timur.
Menurut Direktur Bina Gizi dari Kementerian Kesehatan RI, Ir. Doddy Izwardi, MA, bayi dengan kondisi stunting tidak hanya terjadi di pedesaan, juga beberapa kota di Jawa Timur. Biasanya, stunting sendiri disebabkan kurangnya gizi saat ibu mengandung.
"Faktor ibu hamil dalam mencukup gizi, kemiskinan juga, membuat akhirnya angka bayi lahir stunting semakin tinggi," katanya usai konferensi pers “Program Peningkatan Gizi Ibu, Bayi dan Anak, Dalam Rangka Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Jawa Timur” di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/7/2014). (Baca : Kerajaan Belanda Bantu Masalah Gizi di Indonesia)
Lebih lanjut, selain kemiskinan, kekurangan gizi juga akibat sang ibu minim pengetahuan. Merekapun tidak sadar bahwa janin yang dikandungnya kekurangan gizi. (Baca: Kolang-Kaling Belum Pasti Cegah Cedera Lutut)
"Pola konsumsi gizinya saat bayi lahir. Pasti berbeda jadinya mereka (para ibu-red) kalau tahu. Memberikan anak itu jangan hari ini sudah karbohidrat, besok karbohidrat lagi, ya pasti gemuk. Yang bayi butuhkan makanan dengan kelengkapan komposisinya; ada protein, lemak, karbohidrat, dan serat," tutupnya. (Baca: Hati-hati, Pakai High Heels Bikin Cedera Lutut)
(fik)

View the original article here